Minggu, 10 Juni 2018

• Keahlian •

Writing Article Writing Web Content Writing

☆ Pengetahuan Industri ☆
Blogging

☆ Keahlian Interpersonal ☆
Public Speaking

☆ Keahlian Lainnya ☆
Creative Writing • Content Curation • Blogger • Social Media Blogging • Travel Blogging • Video Blogging • Literature • Literacy • Literature Reviews • Information Literacy • Linguistics • Scriptwriting • Directors • Acting • Modeling • Broadcasting • Storytelling • Dubbing • Art • Illustration • Book Illustration • Comic Book Illustration • Contemporary Art • Animation • Character Animation

Rabu, 01 November 2017

Siapakah Aku?

https://scontent-sea1-1.cdninstagram.com/t51.2885-15/e35/22582535_702612256613559_2873208266324705280_n.jpg?ig_cache_key=MTM2MDA3MDU5NDEyMDgwNTIwMA%3D%3D.2
Tak begitu banyak hal yang bisa diandalkan dan dibanggakan dari diriku. Karena merasa tidak memiliki sesuatu yang bisa aku persembahkan kepada siapapun. Tapi, Ibuku meyakini bahwa suatu saat nanti aku bisa sukses sesuai dengan bidang yang diminati. Amin! Di balik rasa bahagia atas doa baik beliau, terkadang aku merasa jika usahaku tak sebanding dengan dukungan yang didapat.
Aku sudah mencoba berbagai cara, termasuk promosi di semua sosial media yang ada. Tapi, lagi-lagi hasilnya nol. Tak ada yang sudi meluangkan waktu, seperti sekedar mengunjungi blogku. Apalagi untuk membuka lalu membacanya. Sehingga kalau pas ada lomba menulis atau sejenisnya yang membutuhkan jumlah suara terbanyak sebagai salah satu syarat wajibnya, maka lebih baik aku mundur sejak awal. Ya daripada menghabiskan tenaga untuk mengupayakan karya, tapi tidak ada yang bersedia membantu memberikan suaranya untukku.
Hal itu sering membuat hidupku bagaikan simbiosis parasitisme. Mereka hanya meminta suara dariku, kemudian tidak mau memberikan suaranya kepadaku. Jadi hanya mereka yang berhak mendapatkan suara, sedangkan aku tidak. Harapannya adalah kita bisa saling mendukung, ada timbal balik yang baik. Tapi, pada kenyataannya tidak semanis dan semulus ekspektasi. Ya sudahlah, lebih baik aku harus tetap menjadi diri sendiri serta bersyukur atas keadaan ini. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah bersedia memberikan suaranya kepadaku. Kalian akan selalu aku kenang sebagai bagian dari perjalanan penting dalam hidupku. Sukses selalu untuk kita, semoga bisa tetap menjalin hubungan maupun komunikasi yang baik sampai seterusnya.

Selasa, 31 Oktober 2017

4 Golongan yang Seharusnya Pantang Membisu

https://hypnosisplymouth.files.wordpress.com/2016/03/fears-and-phobias1.jpg
 Di zaman modern dan serba cepat ini, semakin hari semakin banyak kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Dimana banyak pihak yang menganggapnya wajar. Hal tersebut disebabkan oleh tuntutan hidup yang begitu keras, sehingga persaingan antar manusia dengan sesamanya menjadi begitu ketat. Bahkan, beberapa survei telah mencatat bahwa sebagian besar korban adalah orang-orang terdekat. Entah itu anak kandung, anak tiri, anak angkat, saudara, tetangga, maupun teman sebaya. Kendati demikian, tak sedikit di antara mereka justru enggan untuk menceritakan atau melaporkan kepada pihak terpercaya agar dapat membantunya.
Pada ulasan blog kali ini, saya akan mengangkat tema tentang kekerasan. Apa yang ada dalam pikiran Anda, ketika mendengar kata "kekerasan"? Sebagian besar di antara kita pasti memiliki persepsi, bahwa kekerasan selalu identik dengan hal-hal yang berhubungan dengan penganiayaan atau kontak fisik. Seperti pemukulan, pengeroyokan, perampokan, dan lain sebagainya. Tapi pada kenyataannya, kekerasan sejatinya meliputi dua hal yaitu kekerasan secara fisik maupun psikis. Berikut macam-macam jenis kekerasan beserta penjelasannya menurut pengalaman, pemahamanan, serta pendapat saya.
Bullying ala Sinema
https://bullyingnoway.gov.au/WhatIsBullying/PublishingImages/types-of-bullying.png
Kita pasti pernah menonton film atau sinetron yang di dalamnya terdapat adegan bullying yang seharusnya tidak pantas ditiru oleh siapapun. Dimana pelakunya adalah orang yang dianggap kece, kuat, bahkan mungkin anak orang berada yang hidupnya serba berkecukupan. Sedangkan korbannya selalu pihak yang berpenampilan culun atau cupu, penyandang disabilitas, hingga mereka yang memiliki ekonomi menengah ke bawah. Di dalam sinema tersebut, rata-rata pelaku selalu mengolok-olok serta mengerjai si korban habis-habisan. Sayangnya, perlakuan tidak menyenangkan tersebut juga kerap terjadi di sekitar kita. Walau terkadang cara melakukannya tidak terlalu dramatis nan berlebihan seperti sinema.
Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar video bullying yang dilakukan oleh sekelompok pelajar. Parahnya, video tersebut tersebar di dunia maya dan menjadi trending topic. Sebagian besar dari kita mengecam para pelakunya, tak terkecuali kepada pihak yang telah merekamnya. Bukannya menjadi penengah, tapi malah tega mengabadikannya dalam bentuk video berdurasi sekian menit. Bahkan, beberapa pihak melaknat setiap tindakan bullying sebagai bentuk premanisasi terselubung pada suatu instansi.
Kalau boleh mengajukan beberapa pertanyaan, apa sih manfaat dan kepuasan dari tindakan bullying? Secara pribadi, saya rasa tidak ada. Karena menyebabkan kesenjangan sosial serta trauma yang berkepanjangan. Lalu, apa keuntungan sang videografer merekam tindak bullying? Selain hanya bisa menghabiskan memori penyimpanan data? Sayang sekali kalau kapasitas memori penyimpanan data hanya digunakan untuk merekam video yang tidak memiliki faedahnya sama sekali. Kan masih bisa digunakan membuat konten bermanfaat lainnya.
Berbicara tentang bullying ala sinema, rata-rata si korban tak pernah mengungkapkan kepada siapapun. Jika dirinya telah menjadi korban tindakan yang tidak menyenangkan tersebut. Alasannya adalah mereka tidak mau memperpanjang masalah, diam adalah emas, bahkan terkadang bullying akan terus diterima sampai si korban menarik kembali laporannya. Karena bagi sang pelaku, apabila korban melapor maka akan dianggap sebagai orang yang lemah tak berdaya. Padahal, melaporkan tindakan bullying sangatlah penting. Agar korban segera mendapat perlindungan dari pelaku yang kerap mengganggu hidupnya.
Kekerasan Seksual
https://4.bp.blogspot.com/-PlgsEQ7bZj4/V1GmamLp1gI/AAAAAAAABmg/TjW0sKsYZv0aoKiee4KFjG5Cy4xW2NeEgCKgB/s1600/Info%2BKekerasan%2Bseksual%2Bcopy.jpg

Kasus kekerasan seksual merupakan kasus yang tak pernah lekang oleh waktu, bahkan menjadi masalah yang sangat serius pada setiap negara. Dimana permasalahan tentang hubungan seks sudah terjadi sejak manusia pertama ada di muka bumi. Apalagi di zaman sekarang, kehadirannya justru menjadi sesuatu yang tak lagi tabu dibicarakan di muka umum. Bahkan, tak sedikit pula orang-orang terdekat kita menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Mirisnya lagi, rata-rata korbannya adalah perempuan serta anak-anak. Mungkinkah, manusia yang sudah mengenal agama maupun norma akan kembali seperti zaman jahiliyah? Menjadi makhluk primitif, bertindak layaknya binatang?
Jika kita menelisik kondisi masyarakat Indonesia saat ini, sepertinya korban tidak mau angkat bicara karena musibah yang menimpa mereka dirasa sangat memalukan untuk diceritakan. Takut aibnya akan menjadi bahan obrolan yang kurang pantas didengar, kemudian dikucilkan di lingkungan masyarakatnya. Secara pribadi, saya memang mengakui bahwa masyarakat kita masih banyak yang senang membicarakan keburukan orang lain di belakang. Mengingat masyarakat zaman sekarang tidak bisa membedakan mana dan bukan masalah yang pantas untuk dikonsumsi oleh publik. Sehingga, membuat mereka mengambil langkah untuk lebih baik diam daripada menjadi bahan obrolan. Padahal kalau korban bersedia melaporkan tindakan yang termasuk dalam perbuatan tidak menyenangkan tersebut, maka pelakunya akan segera dicari dan harus dijebloskan ke dalam jeruji besi sambil diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Selain itu, korban juga bisa segera mendapat penanganan trauma dari ahlinya.
Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
http://mediad.publicbroadcasting.net/p/kunr/files/201503/Domestic_Violence.jpg
Sebagian besar masyarakat Indonesia mengartikan kekerasan dalam rumah tangga berwujud pemukulan dan sejenisnya kepada pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya. Padahal kekerasan tersebut meliputi dua hal, yaitu kekerasan secara lahir dan batin. Membahas tentang KDRT, saya banyak belajar pengalaman tersebut dari orang-orang yang ada di sekitar. Kalau kekerasan berupa batin, alangkah baiknya diselesaikan secara kekeluargaan. Apabila dirasa masih tidak bisa, mungkin jalan satu-satunya dengan melibatkan pihak-pihak yang bersangkutan seperti pemuka agama maupun pengadilan. Tapi jika sudah menyangkut tentang fisik, sebaiknya harus segera melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Apalagi kekerasan secara fisik yang jika dibiarkan akan mengancam keselamatan nyawa si korban. Karena secara hukum, kekerasan fisik bisa masuk dalam ranah tindak kriminal. Mengingat kasus KDRT sendiri bisa berupa pembunuhan, penganiayaan, dan lain sebagainya.
Saya juga sering mendengar alasan korban KDRT yang enggan melaporkan tindakan tersebut kepada pihak yang berwajib, salah satunya adalah karena masih sayang kepada pelaku. Dimana terkadang sang pelaku merupakan tulang punggung keluarga, sehingga keberadaannya masih sangat dibutuhkan oleh korbannya. Sekalipun si korban harus berkali-kali mengelus dada menghadapi perlakuan kasar pelaku. Secara pribadi, saya juga pasti akan merasa dilema jika berada di posisi korban. Tapi, bagaimana pun juga harus tetap dilaporkan agar pelaku mendapatkan efek jera atas hal yang telah dilakukannya.
Menggandaikan Gadis
https://www.expats.cz/content_files/2887/trafficking.jpg
Semua manusia di muka bumi memiliki hak asasinya. Sayangnya, sejak dahulu hingga sekarang pelanggaran HAM masih marak terjadi. Mulai dari memilih agama yang akan dianut, mendapat pendidikan yang layak, hingga hidup tenang dan damai. Pelanggaran HAM yang akan saya bahasa adalah sesuatu yang kerap terjadi serta dialami oleh masyarakat pedesaan bahkan tidak menutup kemungkinan bisa juga terjadi di perkotaan, yaitu hak untuk menentukan jodoh atau pasangan hidup. Sekilas memang terdengar aneh nan nyeleneh, tapi begitulah kenyataannya.
Menggandaikan gadis atau anak perempuan yang masih perawan, agar menikah dengan rentenir dan sejenisnya. Demi melunasi hutang-hutang orang tua atau keluarganya. Padahal setiap gadis berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Pernikahan yang dilakukannya dengan terpaksa seharusnya bisa, bahkan harus dilaporkan. Karena menurut saya, hal tersebut sudah melanggar ketentuan HAM. Karena secara tidak langsung, kejadian tersebut dapat dikategorikan sebagai perdagangan manusia, khususnya wanita.
Kendati para korban memilih untuk tutup mulut, tapi alangkah baiknya sebagai orang terdekat atau masyarakat sekitar agar lebih peduli terhadap mereka. Caranya dengan mengenali tanda-tandanya. Seperti mengalami luka atau sakit pada bagian tertentu, lebih sering mengasingkan diri dari keramaian, hingga perubahan sikap secara drastis. Dimana awalnya korban senang bercerita maupun berbicara dengan orang di sekitarnya, mendadak berubah menjadi pendiam. Hal-hal tersembunyi inilah yang membuat pemerintah membentuk Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Tujuannya adalah melindungi dan menyelamatkan orang yang ada di sekitar kita melalui kampanye #DiamBukanPilihan. Sehingga, mari bersama saling bergandengan tangan. Membentuk barisan serta bersinergi dengan LPSK, demi menekan jumlah korban yang terus bertambah setiap harinya.

Sabtu, 30 September 2017

Rezeki Tak Mengkhianati Pemiliknya

http://waspada.co.id/wp-content/uploads/2015/07/cuaca-hujan-660x330.jpg
 Rezeki adalah bingkisan khusus dari Tuhan yang tak nampak, tapi dapat dirasakan kehadirannya. Suka dan duka kehidupan merupakan sesuatu yang patut kita syukuri. Tak lupa pula untuk selalu mengucapkan terima kasih, walau mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkan. Jika ingin terus menemukan sesuatu yang baik dari-Nya di hari esok, jangan pernah lupa beribadah. Karena Dia sangat suka kepada hamba yang dekat melalui doa-doa uang dipanjatkan setiap saat.
Berbicara tentang rezeki. Setiap makhluk hidup sudah pasti memiliki bekal spesialnya masing-masing. Dimana antara makhluk yang satu dengan lainnya tidak sama. Jadi, sudah dipastikan tak akan pernah tertukar. Hanya saja mungkin bukan yang terbaik atau belum waktunya untuk diberikan.
Selain itu, tak ada satu pun makhluk hidup di dunia ini yang akan berlapang dada ketika dianggap sebagai pembawa sial. Karena hal yang tidak dikehendaki tersebut bukan datang dari sesama ciptaan-Nya. Tapi, sesungguhnya berasal dari dirinya sendiri. Maksudnya adalah bergantung dari amal ibadah dan perbuatan. Bahkan, kesialan juga bisa datang dari doktrin atau sugesti terhadap sesuatu. Misal terlalu percaya akan ramalan (Kartu Tarrot, Zodiak, Shio, garis tangan, atau sejenisnya), percaya akan adanya makhluk penolong lain selain Tuhan (kepercayaan animisme maupun dinamisme), dan lain sebagainya. Membuat 'mind set' masyarakat pun menjadi percaya akan ramalan. Dimana kesialan yang terjadi secara tidak sengaja membutakan akal sehat kita. Sehingga, mulai sekarang STOP melakukan diskriminasi terhadap kaum yang sering dianggap sebagai pembawa masalah serta petaka.

Selasa, 05 September 2017

Lambemu, Dik!

https://sd.keepcalm-o-matic.co.uk/i/keep-calm-and-menengo-lambemu.png
Sebuah judul yang sangat mengejutkan. Terdengar sedikit kasar di telinga hingga menusuk ke hati. Tapi, begitulah adanya. Masih berbicara tentang anak tetangga yang menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan tetangga sang pelempar batu sembunyi tangan. Jujur secara pribadi, aku sudah merasa anak itu tidak dapat dipercaya lisannya. Karena setiap ucapannya tidak pernah sama, antara hari ini dan esok. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya adalah kemunafikan, kepalsuan, kebohongan, dan sejenisnya. Demi menutupi kesalahan yang telah diciptakan oleh dirinya sendiri. Hal tersebut dilakukan demi mengamankan diri dari sebuah kesalahan. Teman atau orang lain yang ada di sekitarnya, khususnya saat kejadian akan selalu tertuduh sebagai pelaku. Memaksa siapapun yang ditujuk untuk selalu berlapang dada. Padahal di dalam hati ingin melayangkan pukulan keras bertubi-tubi di muka sok imut nan tampan. Ini sudah lebih dari batas wajar. Si doi perlu diberi pelajaran tentang tata cara berkata jujur.

Jika bukan karena menjaga nama baik dengan tetangga, mungkin aku sudah melakukan perhitungan kepada dia. Tak peduli siapa dan apa profesi orang tuanya. Karena kejadian itu sudah berulang kali. Membuat resah tetangga yang lainnya, sedangkan si doi hanya diam saja. Pura-pura tidak tahu masalah ini. Padahal sebenarnya dirinya sendiri yang menjadi dalang di balik membludaknya jumlah sahabat bulu secara drastis.

Minggu, 03 September 2017

Anak Tetangga yang Menyebalkan!

http://www.temakita.com/wp-content/uploads/2017/01/orang-bermuka-dua.jpg
Memiliki tetangga baik merupakan impian setiap orang. Tapi, sepertinya itu sedikit sulit untuk dilakukan. Mengingat sifat dan karakter manusia sangat berbeda-beda. Aku punya tetangga yang sangat menyebalkan. Kebetulan yang sedang bermasalah dengan diriku adalah anaknya. Jujur, diri ini tak menyukai kebiasaan buruk yang bisa dikatakan meresahkan sekitarnya. Termasuk keluargaku yang selalu menjadi target sasaran hobi gilanya.

Dia suka mengambil kucing-kucing dari jalanan. Sayangnya, sang ibu tidak menyukai binatang berbulu tersebut. Tapi, suka menitipkan secara ilegal di depan rumahku. Sudah berkali-kali anak laki-laki itu melakukan, bahkan sudah berkali-kali pula keluargaku mengingatkan. Untuk tidak membuang kucing-kucing bukan pada tempatnya. Sepertinya anak ini memang "ndableg", sudah dibilang masih mengulangi perbuatan gilanya. Otomatis mengganggu daerah kekuasaan keluarga bulu milikku. Yap! Mereka pun sering bertengkar hanya gara-gara berebut makanan. Terpaksa, mau tidak mau harus ada peringatan keras kepadanya. Agar tidak begitu terus. Kalau perlu, dilaporkan kepada orang tuanya. Walau keduanya tidak tahu bagaimana kelakuan si anak. Setidaknya, sang empunya buah hati harus tahu. Jika si doi suka buang makhluk hidup sembarangan. Dikira rumah tetangga sebagai tempat penitipan atau pengasuhan kucing lokal?

Padahal para "meong" datang ke rumahku dengan sendirinya. Aku dan keluarga tidak pernah membawa seekor pun dari jalanan. Mereka datang secara tidak sengaja. Mungkin karena tempat sampah di depan hampir tidak pernah sepi dengan harta karun. Dimana Mama sering masak lauk berupa ikan-ikanan, seperti ikan laut dan tawar. Aku tahu, mereka memang sangat suka ikan goreng yang digoreng dengan kering serta gurih.

Berbicara tentang penistaan kaum kucing di rumahku, si anak tetangga ini terbilang kejam. Karena sering membawa anak kucing tanpa induk, bahkan jenis ras milik tetangganya yang berada di perumahan lain pun turut dibawa. Karena di lehernya terdapat kalung lonceng, jadi sudah pasti memiliki tuan. Lebih parahnya lagi, dia taruh sahabat bulu di depan pagar saat keadaan sekitar rumah terlihat sepi. Tapi, aku serta beberapa orang lainnya sudah sering melihat secara langsung kalau memang dia pelaku pembuangan hewan kesayangan Rasulullah. Walau pada kala itu tidak sempat diabadikan dalam bentuk foto maupun rekaman video. Berharap besok jangan sampai kecolongan untuk yang ke sekian kalinya.

Jumat, 01 September 2017

Cat's Story - Induk Bulu yang Manja

Maggie, si kucing cantik ^_^
Maggie, begitulah aku memanggilnya. Kucing betina yang hidup di jalanan. Mengais rezeki dari beberapa rumah, tempat sampah, hingga lokasi yang diyakini dapat melepas rasa lapar sekaligus dahaga. Badannya kurus dengan tatapan mata yang memelas. Manja! Sungguh sangat bersahabat dengan manusia seperti aku. Sayangnya, dia terlalu galak dengan induk bulu yang sudah lama menjadi bagian dari keluargaku. Geram? Iya, tapi tidak lagi. Ketika secara nyata, mata menyaksikan sendiri anak-anak yang sedang diasuh bahkan disusui olehnya. Yap! Dia punya keturunan sebanyak 3 ekor dan belum diketahui jenis kelaminnya. Mana yang jantan maupun betina.
Mereka adalah buah hati Maggie yang sedang tidur pulas di dalam kotak kardus :)
Rasanya, aku ingin mengadopsi mereka. Lagi-lagi, kendala di rumah adalah  sudah terlalu banyak anggota bulu yang hidup bersama kami. Tapi, sebisa mungkin mengupayakan kesejahteraan mereka. Agar hidup layak, sebagaimana kucing yang setiap hari bisa mendapat perhatian dari manusia. Oh, Maggie! Maafkan diriku yang pernah marah bahkan mungkin bersifat kasar kepadamu. Sebenarnya tak pernah sedikit pun terbesit rasa benci sedikit pun kepada kaum "meong". Sesungguhnya, di dalam hati ada rasa ingin mendamaikan penghuni kerajaan kami. Kendati menyatukan perbedaan itu bukanlah perkara yang mudah. Semoga manusia ini bisa memberimu penghidupan yang layak serta sesuai dengan standar dunia pecinta hewan peliharaan.
Maggie dan ketiga anaknya, mereka hidup sengsara akibat ulah anak tetangga :'(
 • Catatan :
  1. Kisah dari seekor kucing lokal betina yang mencari makan hingga ke rumahku. Ceritanya tidak sengaja memberi makan. Tapi, ternyata dia malah asyik tinggal dan bisa dikatakan ingin menetap selamanya.
  2. "Maggie" dibaca "Megi", panggilan tersebut merupakan nama pemberian adik
  3. Kini Maggie kehilangan anak-anaknya, karena anak tetangga yang tidak bertanggung jawab tersebut membuang ketiganya tanpa sang induk.